Oleh: Almi Efendi, S.IQ., S.Th.I
Pimpinan Pondok Alquran Koto Lalang
Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa agung yang menghubungkan langit dan bumi, tetapi juga perjalanan spiritual yang menuntun manusia untuk membaca tanda-tanda Tuhan dalam realitas kehidupan. Pada peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah ini, Ranah Minangkabau tengah diuji oleh musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah, menggenangi rumah, merendam ladang, dan mengguncang ketenangan sosial masyarakat.
Dari Sidratul Muntaha hingga kampung halaman yang terendam air, Isra Mikraj mengajarkan satu pesan abadi: kedekatan dengan Allah SWT harus berbanding lurus dengan kepedulian terhadap sesama manusia.
Salat yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Mikraj adalah simbol kedisiplinan spiritual, sekaligus komitmen sosial. Salat tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga melahirkan kepekaan hati terhadap penderitaan orang lain. Ketika banjir datang membawa luka dan kehilangan, di situlah makna salat diuji—apakah ia benar-benar mencegah kita dari sikap abai dan ketidakpedulian.
Bagi masyarakat Minangkabau, musibah bukan hanya fenomena alam, melainkan juga bahan perenungan adat dan iman. “Alam takambang jadi guru”, pepatah lama yang kembali relevan. Banjir mengingatkan kita tentang relasi manusia dengan alam, tentang amanah menjaga lingkungan, serta tentang konsekuensi dari kelalaian kolektif. Isra Mikraj hadir sebagai momentum untuk menata ulang hubungan itu—antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dalam tradisi Minang yang sarat nilai gotong royong, musibah seharusnya memperkuat rasa badunsanak. Tangan yang terulur, dapur umum yang menyala, doa yang mengalir dari surau-surau—semua itu adalah manifestasi nyata dari hikmah Isra Mikraj yang membumi. Dari langit, Rasulullah SAW membawa perintah salat; di bumi, umatnya diminta menunaikan tanggung jawab sosial.
Peringatan Isra Mikraj di tengah banjir Ranah Minang mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada mimbar dan majelis, tetapi harus hadir di tengah genangan air, di tenda pengungsian, dan di wajah-wajah yang lelah namun berharap. Di sanalah dakwah menemukan maknanya yang paling jujur.
Sebagai bangsa yang religius dan beradat, mari kita jadikan Isra Mikraj 1447 H sebagai titik tolak memperkuat spiritualitas sekaligus solidaritas. Menengadah ke langit untuk berdoa, lalu menapak ke bumi untuk berbuat. Karena sejatinya, perjalanan Isra Mikraj bukan hanya milik Rasulullah SAW, tetapi juga perjalanan batin umatnya—dari kesadaran ilahiah menuju kepedulian insaniah.
Semoga dari musibah ini lahir kesadaran baru, bahwa iman yang kuat akan melahirkan empati yang luas, dan dari Ranah Minang yang diuji, akan tumbuh kembali harapan yang diberkahi.(AE)