Dalam hidup harus berhati-hati. Majulah tanpa menyingkirkan orang lain. Naiklah setinggi mungkin tanpa menjatuhkan orang lain. Jadilah baik tanpa menjelekan orang lain. Jadilah benar tanpa menyalahkan orang lain. Dan bersinarlah tanpa meredupkan cahaya orang lain
Dalam adat Minangkabau, hidup diajarkan berjalan di atas alua jo patuik, melangkah dengan hati-hati agar tidak melukai, berbicara dengan timbang rasa agar tidak menyakiti. Hidup bukanlah gelanggang saling sikut, tetapi hamparan ladang amal tempat menanam kebaikan bersama.
Majulah tanpa menyingkirkan orang lain, karena kemajuan sejati tidak lahir dari runtuhnya orang di kiri dan kanan. Naiklah setinggi mungkin tanpa menjatuhkan siapa pun, sebab derajat tidak diukur dari siapa yang kita jatuhkan, melainkan dari siapa yang kita angkat. Jadilah baik tanpa menjelekkan, karena kebaikan yang sejati tidak membutuhkan keburukan orang lain sebagai pembanding.
Jadilah benar tanpa gemar menyalahkan, sebab kebenaran yang disampaikan dengan hikmah akan lebih mudah diterima daripada kebenaran yang dibalut kesombongan. Dan bersinarlah tanpa meredupkan cahaya orang lain, karena dunia ini cukup luas untuk banyak cahaya, dan langit tidak pernah cemburu pada bintang.
Begitulah hidup seharusnya dijalani: tinggi tampak jauah, dalam tampak baselo, berilmu, beradab, dan berakhlak.
Karena pada akhirnya, yang dikenang bukan seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa banyak kebaikan yang tertinggal di hati manusia.
— Almi Efendi, SIQ., STh.I
Kepala MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang