Oleh: Almi Efendi, SIQ, STh.I — Kepala MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang.
Ahad pagi, 28 Desember 2025, fajar menyingsing dengan wajah yang teduh di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Di bawah langit subuh yang masih menyimpan sunyi, sebuah peristiwa penuh makna berlangsung dengan khidmat dan kegembiraan. MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang bersama Lembaga Didikan Subuh (LDS) Kota Padang melaksanakan studi tiru Didikan Subuh ke LDS Nagari Situjuah Batua, sebuah perjalanan ruhani yang sarat pelajaran dan nilai persaudaraan.
Rombongan MDTA Nurul Yaqin dan LDS Kota Padang tiba dengan niat tulus dan semangat ukhuwah. Mereka disambut hangat oleh pengurus LDS Nagari Situjuah Batua, seolah jarak antara kota dan nagari luruh oleh senyum, salam, dan jabat tangan persaudaraan. Subuh hari itu bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan ruang belajar yang hidup—tempat nilai ditransfer, pengalaman dibagikan, dan hati dipertautkan.
Kegiatan studi tiru ini menjadi momentum berharga bagi para guru, pengurus, serta santri MDTA Nurul Yaqin. Dalam satu saf, tanpa sekat wilayah dan latar belakang, mereka belajar bahwa Didikan Subuh adalah fondasi karakter. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana kebersamaan dibangun dengan kesederhanaan, bagaimana disiplin tumbuh tanpa paksaan, dan bagaimana akhlak mulia diajarkan melalui keteladanan.
Berbagai rangkaian kegiatan berjalan tertib dan penuh makna—mulai dari pelaksanaan Didikan Subuh, interaksi edukatif antar santri, hingga dialog pengurus dan guru MDTA dengan pengelola LDS Nagari Situjuah Batua. Dari nagari ini, MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang dan LDS Kota Padang memperoleh inspirasi tentang kearifan lokal, kekuatan kebersamaan masyarakat, serta ketulusan dalam merawat generasi sejak usia dini. Sementara itu, dari Padang terjalin semangat kolaborasi dan visi pengembangan Didikan Subuh yang lebih maju dan berkesinambungan.
Dalam tradisi Minangkabau, subuh adalah waktu paling jujur. Maka ketika studi tiru ini dilaksanakan di waktu subuh, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya program, tetapi karakter dan peradaban. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah hidup nyata dalam gerak langkah santri MDTA, guru, dan para pengurus LDS.
Kegiatan ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga sukses secara batin. Banyak peserta merasakan bahwa perjalanan ini menghadirkan pelajaran yang tidak tertulis di buku—tentang keikhlasan, kebersamaan, dan cinta terhadap pendidikan Islam. Pengalaman di Situjuah Batua menjadi bekal berharga yang akan dibawa pulang ke Parak Tabu Koto Lalang dan Kota Padang, untuk disemai kembali dalam kegiatan Didikan Subuh dan pembinaan MDTA di lingkungan masing-masing.
Kita semakin yakin, cahaya generasi tidak selalu lahir dari panggung besar dan gemerlap. Ia justru menyala dari subuh yang sunyi, dari nagari yang sederhana, dari anak-anak yang dibiasakan bangun pagi untuk mendekat kepada Tuhannya.
Studi tiru MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang bersama LDS Kota Padang ke LDS Nagari Situjuah Batua telah membuktikan satu hal penting: jika hati disatukan oleh iman, maka jarak hanyalah angka. Dari Padang ke Situjuah Batua, ukhuwah terajut, pengalaman bertambah, dan cahaya generasi kembali dinyalakan.
Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah yang terus berlanjut, menginspirasi lembaga pendidikan Islam lainnya, serta meneguhkan komitmen bersama dalam mendidik generasi yang kuat iman, indah akhlak, dan terang masa depannya. Karena dari subuh yang dirawat bersama, peradaban tumbuh dengan penuh harapan. (AE)