Oleh: Almi Efendi, SIQ, STh.I
Kepala MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu, Koto Lalang
Di bawah langit subuh yang masih bening, ketika dunia belum sepenuhnya terjaga, denting rebana mengalun lembut di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada momentum Didikan Subuh Gabungan antara LDS Kota Padang dan LDS Situjuah Batua, Tim Qasidah Rebana Ar-Rijal MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang tampil dengan kesederhanaan yang menggetarkan hati.
Subuh hari itu bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga panggung dakwah yang penuh makna. Anak-anak Ar-Rijal menabuh rebana bukan untuk riuh, melainkan untuk mengajak jiwa-jiwa kembali tenang. Setiap ketukan rebana adalah zikir yang bergerak, setiap lantunan shalawat adalah doa yang terbang menuju langit. Di hadapan jamaah Didikan Subuh, seni dan iman bersua dalam satu irama.
Penampilan Ar-Rijal menjadi bagian indah dari rangkaian Didikan Subuh Gabungan LDS Kota Padang dan LDS Situjuah Batua. Kehadiran mereka memperkaya suasana, menghadirkan kegembiraan yang santun dan pesan dakwah yang mudah diterima. Anak-anak belajar bahwa dakwah tidak selalu harus dengan mimbar yang tinggi, tetapi bisa hadir melalui seni yang jujur dan hati yang bersih.
Bagi para santri Ar-Rijal, perjalanan dari Koto Lalang ke Situjuah Batua adalah pelajaran kehidupan. Mereka belajar tentang disiplin waktu, keberanian tampil, dan adab di tengah masyarakat. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa membawa nama madrasah berarti membawa amanah—menjaga akhlak sebelum menunjukkan bakat.
Dalam tradisi Minangkabau, subuh adalah waktu paling jernih untuk menanamkan nilai. Maka ketika rebana ditabuh di waktu subuh, sesungguhnya yang sedang ditanam adalah karakter. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, hidup dalam irama sederhana namun sarat makna.
Penampilan Tim Qasidah Rebana Ar-Rijal disambut hangat oleh pengurus LDS dan masyarakat Situjuah Batua. Bukan karena kemewahan penampilan, melainkan karena ketulusan anak-anak dalam menyampaikan shalawat dan pesan cinta kepada Rasulullah SAW. Di wajah-wajah kecil itu, terpancar harapan besar tentang masa depan dakwah dan pendidikan Islam.
Kegiatan Didikan Subuh Gabungan ini menjadi bukti bahwa pembinaan anak-anak melalui seni Islami adalah jalan yang efektif dan menenangkan. Dari Padang ke Situjuah Batua, dari Koto Lalang ke nagari yang teduh, cahaya itu berjalan—dibawa oleh tangan-tangan kecil yang menabuh rebana dengan penuh cinta.
Semoga langkah-langkah kecil para santri Ar-Rijal menjadi langkah panjang dalam pengabdian. Semoga setiap denting rebana menjadi saksi bahwa pendidikan Islam dapat tumbuh indah, lembut, dan menyentuh dunia. Karena dari subuh yang dirawat bersama, cahaya generasi terus menyala—tanpa henti.