Oleh: Almi Efendi, S.IQ., S.Th.I.
Di tengah riuh rendah dunia digital, ketika pencapaian dipamerkan dan keberhasilan dielu-elukan, sebuah pesan sederhana hadir mengetuk nurani: “Aku tidak punya harta untuk dipamerkan, aku tidak punya ilmu untuk dibanggakan. Aku hanya punya dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”
Kalimat ini bukanlah ungkapan pesimisme, melainkan cermin kesadaran. Ia adalah panggilan untuk muhasabah diri—merenung, menilai, dan menata ulang langkah hidup agar tidak terperdaya oleh gemerlap dunia.
Hidup Adalah Titipan
Dalam falsafah Minangkabau, “Alam takambang jadi guru.” Segala yang terbentang di hadapan kita mengajarkan kebijaksanaan. Harta, jabatan, popularitas, bahkan kecerdasan—semuanya adalah titipan. Tidak ada yang benar-benar kita miliki.
Nyawa yang kita hirup hari ini pun hanyalah amanah. Ia bisa diambil kapan saja oleh Sang Pemilik. Maka, apa yang pantas untuk disombongkan?
Kesadaran ini selaras dengan ajaran Islam yang menuntun umatnya untuk rendah hati. Allah mengingatkan agar manusia tidak berjalan di muka bumi dengan angkuh. Karena pada hakikatnya, manusia lemah dan penuh keterbatasan.
Antara Bangga dan Bersyukur
Muhasabah bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, melainkan menempatkan diri pada posisi yang benar. Prestasi boleh diraih, ilmu wajib dikejar, harta boleh dicari—namun semuanya harus berujung pada syukur, bukan kesombongan.
Orang Minang mengenal pepatah, “Tinggi naiak, sarantiang dilinduang; gadang malendo, sapayuang dipayungi.” Artinya, semakin tinggi seseorang, semakin ia harus melindungi dan mengayomi. Semakin besar kedudukan, semakin luas tanggung jawabnya.
Bangga yang berlebihan hanya akan menjauhkan manusia dari rasa cukup. Sementara syukur akan melahirkan ketenangan.
Dunia Bukan Tempat Pamer
Di era media sosial, kita mudah terjebak dalam budaya pamer: pamer harta, pamer gelar, pamer perjalanan, bahkan pamer ibadah. Tanpa disadari, keikhlasan terkikis oleh hasrat pengakuan.
Padahal, hakikat kehidupan adalah persiapan menuju pertanggungjawaban. Setiap langkah akan diminta jawabnya. Setiap nikmat akan ditanya penggunaannya.
Muhasabah diri mengajarkan kita untuk bertanya:
Sudahkah harta menjadi jalan kebaikan?
Sudahkah ilmu menjadi cahaya bagi orang lain?
Sudahkah jabatan menjadi amanah yang ditunaikan dengan jujur?
Menjadi Pribadi yang Sederhana
Sederhana bukan berarti miskin cita-cita. Sederhana adalah sikap batin yang tidak terikat pada dunia. Ia adalah kekuatan untuk tetap rendah hati saat dipuji, dan tetap tegar saat diuji.
Minangkabau yang berlandaskan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menuntun kita untuk menjadikan nilai agama sebagai fondasi hidup. Dalam fondasi itulah muhasabah menemukan maknanya: hidup bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Penutup
Mari kita belajar dari pesan sederhana dalam flayer tersebut: bahwa yang paling layak kita banggakan bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mengelolanya dengan amanah.
Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah pujian manusia, melainkan catatan amal di sisi Allah.
Semoga kita termasuk hamba yang ringan hisabnya, lapang dadanya, dan tulus amalnya.
Mari memperbanyak muhasabah, memperkuat syukur, dan menumbuhkan kerendahan hati—demi Minangkabau yang bermartabat dan Indonesia yang berakhlak.
|
|
: | 07 Januari 2026 19:35:26 |
|
|
: | Koto Lalang |
|
|
: |
| Hari ini | : | 21 |
| Kemarin | : | 871 |
| Total Pengunjung | : | 26.222 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.216.126 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
| Tema Pro | : | DeNava v112.05 |
|
|
: | 07 Januari 2026 19:35:26 |
|
|
: | Koto Lalang |
|
|
: |
| Hari ini | : | 21 |
| Kemarin | : | 871 |
| Total Pengunjung | : | 26.222 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.216.126 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
| Tema Pro | : | DeNava v112.05 |
Jl. Koto Lalang RT 3 RW 2, Kode Pos 25232
Kelurahan
Koto Lalang
Kec.
Lubuk Kilangan
Kota
Padang